Web Gungun Wiyadi


Tetap semangat dalam berkarya
Ayo Kita Mengenal Situs Megalitikum Gunung Padang...!!!

Nama gunung : Gunung Padang
Ketinggian : 885 mdpl
Lokasi : Cianjur
Lama pendakian : 10-15 menit

Situs megalitikum gunung padang


"Kalau Inggris punya Stone Henge, Perancis punya batu batu Carnac, Laos punya batu batu Guci dan Mikronesia punya Nan Madol, Maka Indonesia juga punya situs megalitikum Gunung Padang, situs megalitikum terbesar se Asia Tenggara..."

Jangan tertipu oleh namanya, walaupun namanya "Gunung Padang" tapi ini bukan gunung hanya sebuah bukit kecil dan lokasinya pun bukan di Padang - Sumatera Barat. Situs Gunung Padang berada di Kampung Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten – Cianjur Jawa Bawat. Luas kompleks bangunan situs -+ 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs Megalitikum Gunung Padang diperkirakan dibangun pada 2000 SM atau sekitar 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, pengunjung harus meniti tangga curam setinggi -+ 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit sebanyak hampir 400 anak tangga.


Kata “padang” berasal dari beberapa suku kata, yaitu :

-Pa = Tempat
-Da = Besar/gede/agung/raya
-Hyang =Eyang/moyang/biyang/leluhur agung

Jadi arti kata “Padang” itu adalah Tempat Agung para Leluhur atau boleh jadi maknanya Tempat para Leluhur Agung.

Cara menuju Gunung Padang dari Jakarta :
JAKARTA - SUKABUMI - SUKARAJA - TEGAL SEREH - SITUS GUNUNG PADANG

Jakarta – Sukabumi
Ada banyak pilihan cara menuju ke Sukabumi
1. Kereta Api Bumi geulis (Bogor-Sukabumi)
Jadwal keberangkatan :
Dari bogor : berangkat: 17.00 WIB ; tiba : 19.00 WIB
Dari Sukabumi: berangkat : 05.00 WIB ; tiba : 07.00 WIB
Ongkos : Rp 8.000
2. Bus dari kampung rambutan, lebak bulus, kalideres, depok, bogor
ongkos bus ekonomi dari kampung rambutan Rp 18.000
lama perjalanan: 4-5 jam.

Term.kampung rambutan

Terminal Sukabumi – Terminal Sukaraja
- Angkot putih (lupa jurusan mana, bilang aja mau ke terminal sukaraja)
Ongkos : Rp 2.000
- Angkot pink nomor 01 ; turun di terminal sukaraja
Ongkos : Rp 2.000

Terminal Sukaraja – Tegal Sereh
- Angkot Kuning (gak tau jurusan mana, soalnya carter ampe jalan besar menuju gunung Padang)
Ongkos : Rp 2.000
- Angkot Hijau/biru ; turun di pangkalan ojek menuju gunung Padang
Ongkos : Rp 2.000

Dengan pertimbangan waktu dan bujukan supir angkot, akhirnya kami memutuskan menggunakan dua kali angkot (angkot putih dan kuning) dari yang seharusnya 4 kali turun-naik angkot. Menjelang maghrib kami tiba di tepi jalan besar menuju situs gunung Padang, di sini kami mencoba mengumpulkan informasi dari penduduk sekitar. Setelah semuanya jelas kami pun mulai berjalan. Jalan yang kami lalui ini adalah sebuah jalan desa yang beraspal, kami hanya mengikuti jalan dan mencoba bertanya arah kepada setiap penduduk yang kami temui. Saya sarankan untuk mencarter mobil masuk ke dalam sampai parkiran situs gunung padangnya, karena dari sini masih sangat jauh jika berjalan kaki, atau jika tidak mencarter angkot coba jalan kaki saja dan menumpang mobil bak terbuka yang lewat seperti yang kami lakukan.

Mobil bak terbuka yang kami tumpangi berhenti di pertigaan kebun teh menuju situs gunung padang. Di sana ada papan penunjuk arah yang bertulis “Situs Megalit Gunung Padang 2 km”. jangan terlalu percaya dengan jaraknya, karena iseng-iseng saya hitung jarak dengan alat pedometer di handphone saya ternyata jarak aslinya adalah 5 km sampai parkiran/bawah tangga situs gunung Padang. Sekitar jam 9 kami sudah sampai di bawah tangga situs gunung padang. Di sini banyak terdapat warung-warung makan, kami beristirahat di sini memesan makanan sekaligus mengurus perizinan. Beberapa temen yang sudah tidak sabar melihat gerhana bulan, mencoba langsung ke atas sambil membawa kamera. Langit yang mendung ternyata menghalangi gerhana bulan malam itu.

Dari beberapa info yang kami dapatkan, memang ada yang bilang tidak di perbolehkan membuka tenda di situs gunung padang. Tapi berbekal spekulasi dan keinginan menyaksikan gerhana dan purnama sambil bertenda di sekitar situs-situs peninggalan prasejarah, maka kami tetap memutuskan membawa tenda. Perhitungannya kalo gak di izinkan nenda di atas, kami buka tenda di parkiran mobil aja, atau numpang tidur di warung-warung yang ada di bawah. Tapi akhirnya kami di izinkan untuk membuka tenda di atas, dengan catatan pagi-pagi sekali tenda harus di bongkar dan tidak merusak situs yang ada. Di atas ternyata sudah ada saung (gubuk kecil) untuk orang beristirahat, dan malam itu tidak hanya kami yang berada atas ada penduduk lain yang melakukan ritual.

situs gunung padang

Pagi hari kami sempatkan bangun pagi untuk melihat sunrise, tapi sayang karena cuaca yang masih agak mendung jadi pagi itu kami sama sekali tidak mendapat sunrise. Aktivitas lain kami isi dengan berfoto-foto dan sarapan. Di sekitar situs pun sudah terlihat aktivitas pengunjung dari subuh, ada yang bersemedi di teras ke lima, ada juga sekelompok peneliti dari arkeolog yang sedang mengamati situs, dan ada juga beberapa wartawan dari sebuah stasiun TV yang sedang mempersiapkan pengambilan gambar. Salah seorang peneliti menghampiri tenda menyapa kami dan bercerita banyak tentang situs megalitikum ini . “Kalian dari komunitas apa ?? kenapa tertarik mengunjungi situs gunung padang ini??” tanya salah seorang arkeolog itu yang sepertinya heran melihat kami mendirikan tenda di situs ini.
Tak lama kemudian seorang petugas situs mengingatkan kami untuk segera membereskan tenda karena sebentar lagi akan ada stasiun televisi swasta yang akan mengambil gambar.

Catatan :
- Mendirikan tenda di situs ini sepertinya memang di larang karena bisa merusak lokasi situs dan mengganggu pengunjung lain yang ingin menikmati situs megalitikum secara utuh. Beruntung kami di izinkan dengan catatan menjaga kebersihan dan tidak merusak situs, selain itu kami pun di haruskan segera merapikan tenda pagi-pagi.
- Bertenda di lokasi situs megalitikum ini, membuat kami bingung ketika kebelet buang air besar/kecil. Kami tidak mungkin sembarangan buang air di sekitar lokasi situs. WC umum ada di bawah, tapi jika malas turun ke bawah ya terpaksa keluar pagar yang mengelilingi situs dan buang hajat di pinggir ladang penduduk.
- Suhu di sekitar lokasi situs, tidak terlalu dingin seperti di gunung. Di sekitar situs pun sudah terdapat gubuk kecil dari kayu.
- Apabila anda di izinkan bertenda di sekitar lokasi, sebaiknya jangan membuang cairan apapun (cairan kopi, cairan bekas masak mie, atau cairan apapun itu ) ke dalam lokasi situs! Sediakan botol minum kosong untuk menampung cairan yang tidak terpakai itu. Walaupun di sekitar lokasi situs disediakan tempat sampah, usahakan membawa turun semua sampah-sampah anda.
Bangsa yang besar adalah yang menghargai dan ikut merawat warisan nenek-moyangnya.

Situs megalitikum gunung padang

Sejarah Gunung Padang
Situs Gunung Padang merupakan Punden Berundak yang tidak simetris, berbeda dengan punden berundak simetris seperti Borrobudur, juga berbeda dengan punden berundak simetris lainnya yang ditemukan di Jawa Barat seperti situs Lebak Sibedug di Banten Selatan. Sebuah punden berundak tidak simetris menunjukkan bahwa pembangunan punden ini mementingkan satu arah saja ke mana bangunan ini menghadap.

Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 06°59,522′ LS dan 107°03,363 BT. Situs Gunung Padang terdiri atas lima teras (tingkatan). Dasar situs terdapat di ketinggian 894 m dpl, data setiap teras adalah sebagai berikut:

1. teras pertama berada pada ketinggian 983 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,
2. teras kedua berada pada ketinggian 985 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 337° UT,
3. teras ketiga berada pada ketinggian 986 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,
4. teras keempat berada pada ketinggian 987,5 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 330° UT,
5. teras kelima berada pada ketinggian 989 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 345° UT.

Berdasarkan data di atas, tinggi punden berundak situs Gunung Padang adalah 95 meter dengan arah utama teras menuju utara baratlaut dengan rata-rata azimut 336,40 ° UT. Seluruh teras situs Gunung Padang ini mengarah kepada Gunung Gede (2950 m dpl) yang terletak sejauh sekitar 25 km dari situs ini.

Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm. Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon). Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi. Teras pertama merupakan teras terluas dengan jumlah batuan paling banyak, teras kedua berkurang jumlah batunya, teras ke-3 sampai ke-5 merupakan teras-teras yang jumlah batuannya tidak banyak.

Pengamatan di lapangan; pengukuran posisi, ketinggian dan azimut setiap teras; pengolahan data posisi situs menggunakan program astronomi (”arkeoastronomi); memperhatikan semua keterangan para interpreter serta diskusi-diskusi para ahli; membawa kepada sebuah kesimpulan yang pada intinya adalah bahwa situs megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum prasejarah yang dibangun untuk keperluan penyembahan dan dibangun pada posisi yang telah memperhatikan geomantik dan astromantik.

Tentang umurnya, ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya adalah 1500 SM berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda, Bujangga Manik , yang semasa dengan Prabu Siliwangi, yang menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda. Dan, tidak mungkin Bujangga Manik tidak tahu kalau situs ini dibangun oleh Kerajaan Sunda sebab ia pun seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Kebanyakan artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada saat Kebudayaan Dongson (500 SM) berlangsung (Sukmono, 1977, 1990).

tapak harimau, batu kujang dan batu gendong

Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geologi sebab ia dibangun memanfaatkan sebuah bukit punggungan/puncak lava andesit basaltik dan lava basaltik berumur Pliosen (2,1 juta tahun, lihat peta geologi lembar Cianjur - dipetakan oleh Mang Okim, 1973, direvisi 2003 dan lembar Sindangbarang) yang terbuat dari tiang-tiang batuan andesit dan basal yang telah terlepas secara alami karena retakan oleh pendinginan lava (kekar tiang, columnar jointing). Batu-batu tiang ini kemudian ditambang oleh manusia pada zaman itu untuk membangun punden berundak-undak.

Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geomantik untuk tujuan religiositas berupa penyembahan Sang Hyang atau sang penguasa alam saat itu yang oleh manusia pada masa itu diyakini bermukim di puncak Gunung Gede. Gunung dalam kosmologi agama purba Jawa adalah personifikasi pemberi dan pengambil (Magnis-Suseno, 2006). Ia pemberi kesuburan tanah yang menumbuhkan tanaman untuk dimakan, tetapi ia juga adalah sang pengambil yang letusannya bisa membinasakan siapa saja. Maka gunung harus disembah agar ia tak marah dan selalu memberi berkah. Bahwa situs ini dipakai untuk tempat penyembahan dengan orientasi sang penguasa di Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras situs ini dari yang paling rendah (teras 1) sampai yang paling tinggi (teras 5) selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT. Di teras 2 terdapat dua menhir dan satu dolmen kecil yang kelihatannya dipakai untuk duduk, dan itu tepat mengarah ke puncak Gunung Gede. Arah azimut rata-rata ini pun membentuk kelurusan dengan semua bukit/gunung yang ada di sekitar Gunung Padang yaitu : Pasir Pogor, Gunung Kancana, Gunung Gede, Gunung Pangrango.

panggung pertujukan zaman megalitikum

Situs Gunung Padang pun secara geologi berada pada area yang secara kegempaan cukup aktif, yaitu tidak jauh dari Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri adalah sesar besar yang memanjang dari Teluk Pelabuhanratu sampai sekitar Padalarang. Bila ada pengaktifan gaya geologi di sekitar Teluk Pelabuhanratu atau Jawa Barat Selatan, maka sesar ini sering menjadi media penerus gaya goncangan gempa. Beberapa menhir yang terguling dan patah di area situs ini diperkirakan diakibatkan gempa. Pembangunan situs ini juga, terutama di teras 1 telah cukup memperhatikan masalah kelabilan area ini yaitu dengan cara menyusun tiang-tiang batu secara mendatar dan saling menumpuk untuk penguatan. Dalam hubungannya dengan penyembahan, situs ini pun dapat dibangun untuk maksud agar manusia dijauhkan dari bencana gempa atau gunungapi yang memang sumber-sumbernya tidak jauh dari Gunung Padang.

Tidak seperti banyak situs megalitikum lainnya (seperti Piramida, Stonehenge, Machu Picchu) yang dibangun untuk menyembah atau mengindahkan (dewa) Matahari, situs Gunung Padang dibangun untuk diorientasikan seluruhnya kepada Gunung Gede. Ini nampak dari pola bangunan punden berundaknya yang asimetris, tidak dibangun simetris ke semua sisi seperti Candi Borrobudur, tetapi hanya ke satu sisi, yaitu Gunung Gede. Dengan demikian, Gunung Gede menempati posisi geomantik yang sangat kuat bagi situs Gunung Padang.

Yang unik dari situs megalitik Gunung Padang adalah ditemukannya bilah-bilah batuan yang diperuntukkan sebagai alat musik. Ini adalah penemuan pertama di Indonesia. Dahlan dan Situngkir (2008) dari Bandung Fe Institute berbekal alat perekam dan analisis Fourier transform pernah meneliti musikologi situs ini dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga bilah batu yang bisa mengeluarjan nada musik dengan dentingan (pitch) berfrekuensi dari 2600-5200 kHz selaras dengan nada-nada f”’, g”’, d”’, a”’. Jika batu basal kecil dipukul-pukulkan ke alat musik batu ini, maka akan terdengar dentingan yang tinggi dan teratur dari batu ini. Dapat dibayangkan bahwa manusia pada zaman dahulu ini melakukan penyembahan dengan iringan musik-musik batu. Menurut cerita, konon penduduk kampung di bawah situs ini masih suka mendengarkan riuh musik dari bukit ini pada malam-malam tertentu.

batu yang menghasilkan nada

Secara astronomis, situs Gunung Padang pun mempunyai harmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis astronomi menggunakan program ‘planetarium’ menunjukkan bahwa posisi situs ini pada pada masa prasejarah (pemrograman dilacak sampai ke tahun 100 M) berada tepat di bawah bagian tengah lintasan padat bintang di langit berupa jalur Galaksi Bima Sakti. Dan, lokasi situs Gunung Padang pun di sisi atas dan bawah kaki langitnya masing-masing ‘dikawal’ oleh dua rasi yang merupakan penguasa dunia bawah (Bumi) yaitu rasi serpens (ular) dan dunia atas (Langit) yaitu rasi aquila (elang). Secara kosmologis, para pembangun situs ini telah memperhatikan tata langit di atasnya. Bila situs ini benar dibangun pada masa prasejarah, pembangunannya adalah ras Austronesia yang merupakan pendatang-pendatang pertama di Indonesia. Mereka melintasi Nusantara dari tanah asalnya dengan cara berlayar, dan penguasaan ilmu perbintangan/falak adalah salah satu hal mutlak dalam pelayaran antarpulau. Mungkin juga bahwa situs ini digunakan untuk menjadi tempat pengamatan bintang pada masa lalu.

Situs Gunung Padang, situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiusitas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit.

 



Komentar :

No Komen : 4
alfaonline.com toko belanja online murah promo heboh jual barang hanya rp 1 - :: 18-11-2013 10:16:13
bagus sekali bro.
 
No Komen : 3
asus fonepad tablet 7 inci dengan fungsi telepon :: 18-11-2013 10:15:52
bagus sekali bro.
 
No Komen : 2
melanie :: 08-07-2013 01:26:09
Makasih banyak untuk infonya
 
No Komen : 1
tiyar :: 02-03-2012 21:36:00
thanks infonya sob.awal maret ini saya jg mau kesana.
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • Ayo Kita Mengenal Situs Megalitikum Gunung Padang...!!!
    02-03-2012 14:35:41  (4)
  • Sehat tanpa Obat Bersama ORP Mahatma
    11-08-2011 17:01:44  (2)
  • PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN LEARNING IS FUN
    11-08-2011 22:09:15  (1)

Pengunjung

    16943

Link Partner